Tikar Purun Banjar di Serdang Medan Raih Upakarti

Tikar Purun Banjar di Serdang Medan Raih Upakarti – Kembali Lagi Pada Postingan Kali ini Blog Info-Kita.net Akan Berbagi Informasi Terbaru Khusus Buat Sobat semua yakninya tentang Tikar Purun Banjar di Serdang Medan Raih Upakarti, semoga bisa Bermanfaat ya Buat Sobat Semua.

Urang Banjar dari Kalimantan Selatan berjaya dan sukses sebagai pekerja home industri membuat anyaman tikar purun di Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Kaum wanita yang menjadi perajin tikar purun ini berdiam di Pantai Cermin seraya menunggu sang suami yang bekerja sebagai nelayan. Tikar purun merupakan anyaman batang purun untuk alas duduk yang lebarnya antara 2 sampai 3 meter persegi. Dibuat dari sejenis rumput liar yang tumbuh di rawa dan persawahan pasang surut. Tikar purun ini juga dibuat oleh para penganyam tikar di desa Ara Payung, Besar II Terjun, Kota Pari, Kuala Lama, Lubuk Saban, Naga Kisar, Pantai Cermin dan Sementara. Namun, yang asli dari kelahiran urang Banjar adalah Desa Sei Nagalawan ini, sejak tahun 1958 penduduk migrasi ini sudah mulai mengolah tikar purun dan sekatrang adalah generasi kedua. Ibu Salamah, yang kini mewarisi kerajinan tikar purun ini menceritakan bagaimana perjalanan mengolah tikar purun yang diturunkan oleh kedua orangtuanya hingga sekarang telah memiliki sekitar 60 orang wanita perajin di desanya. Tak kalah rajin dan giat adalah Abah Idris yang memiliki tanaman purun sebagai bahan dasar pembuatan tikar. Abah Idris merupakan ahli waris urang banjar yang juga memiliki keterampilan mengolah purun sekaligus menjadi petani purun di rawa sekitar desanya. Untuk seikat purun yang panjangnya 3 meter, Abah Idris menjual seharga 165 ribu rupiah dan dapat diolah tikar sebanyak 20 lembar. Selanjutnya oleh perajin diolah menjadi tikar purun yang polos dijual seharga 15 ribu sampai 35 ribu rupiah sementara yang bermotif sampai 70 ribu selembar. Hampir semua kaum wanita di Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara adalah perajin tikar purun dan menjadikannya sebagai mata pencarian pokok bagi kehidupan sehari-hari.
Tikar Purun Banjar di Serdang Medan Raih Upakarti
perajin dan penjaja tikar purun
Seorang pengumpul akan membeli dan membawa semua produk tikar purun dari rumah penduduk di Desa Sei Nagalawan ini. Selanjutnya dijual di Pasar Bengkel, Medan – yaitu lokasi di poros jalan lintas Sumatera yang ramai dan menjadi sentra kuliner dan jajanan masyarakat yang berwisata di Kota Medan atau Kota Pematang Siantar. Jangan kaget pula kalau di Pasar Bengkel Medan ini banyak perajin tikar purun yang langsung membawa tanpa melalui pengumpul. Emak-emak yang menjadi perajin di sekitar Pasar Bengkel ini memanfaatkan mobil besar yang lewat dengan meletakkan di jalan raya untuk meratakan batang purun. Sejak pukul lima sore hingga menjelang petang perajin yang berasal dari Desa Suka Beras dan Desa Pematang Sijonam sudah mulai berjejeran di tepi jalan seraya menggenggam seikat batang purun. Mengapa dilindaskan ke jalan, “kalau tidak dilindaskan, daunnya tidak lemir, mana bisa dianyam” demikian ujar Maimunah. Memang, begitulah proses pembuatan tikar purun – dari batang pohon yang hijau, kemudian dijemur dengan panas matahari hingga layu dan berwarna kuning kecoklatan, lantas dipukul dengan batang kayu hingga ‘lemir’ atau berbentuk pipih, kemudian dianyam menjadi tikar. Di Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai ada sejenis alat penumbuk batang purun yang sudah terikat dalam bentuk palu kayu yang berukuran cukup besar dengan model jungkitan sehingga seseorang akan berdiri menginjak pada ujung papan serta seorang lagi di depan palu memutar ikatan purun agar terpukul pipih merata.
Tikar Purun Banjar di Serdang Medan Raih Upakarti
kebisaan ditangan yang membawa sukses
Hebatnya lagi, produksi home industri ‘tikar purun’ ini membuat Kabupaten Serdang Bedagai telah berhasil mendapat penghargaan Upakarti dari Pemerintah sebagai kebanggaan masyarakat migrasi urang banjar di Pantai Cermin, Sumatera Utara. Ada pepadah urang banjar yang selama ini menjadi panutan, khususnya bagi orang tua kepada anaknya – yaitu kebisaan di tangan – artinya seorang yang sudah beranjak dewasa harus memiliki keterampilan sebagai bekal menjalani hidup, baik di negeri sendiri apalagi di negeri orang.
ilustrasi by google.net

Sumber

Demikianlah informasi yang dapat Info-Kita.net sampaikan. Semoga bermanfaat dan Beguna Hendaknya Buat anda semua pengunjung Blog Ini. dan Terima kasih kepada Sobat Semua yang telah membaca artikel Tikar Purun Banjar di Serdang Medan Raih Upakarti

Tikar Purun Banjar di Serdang Medan Raih Upakarti | Elida Hafni | 4.5 | 56 x diLihat