Pendekar Asli Indonesia Yang Mulai Terlupakan

      Tak ada komentar pada Pendekar Asli Indonesia Yang Mulai Terlupakan

Inilah pendekar asli Indonesia yang sejujurnya mulai terlupakan oleh kemajuan zaman. Di masa mereka, mereka sangat gigih memperjuangkan harga diri dan wilayah dari penjajahan orang asing. Merekalah pendekar asli Indonesia yang terlupakan dan menjadi legenda hingga saat ini dan di masa mendatang.

  1. Si Pitung
Si pitung

Pitung adalah salah satu pendekar orang asli Indonesia berasal dari daerah Betawi yang berasal dari Kampung Rawabelong Jakarta Barat. Pitung dididik oleh kedua orang tuanya berharap menjadi orang saleh taat agama. Ayahnya Bang Piun dan Ibunya Mpok Pinah menitipkan si Pitung untuk belajar mengaji dan mempelajari bahasa Arab kepada Haji Naipin.

Setelah dewasa si Pitung melakukan gerakan bersama teman – temannya karena ia tidak tega melihat rakyat yang miskin. Untuk itu ia bergerilya untuk merampas dan merampok harta – harta masyarakat yang hasil rampasannya ini dibagikan kepada rakyat miskin yang memerlukannya. Selain itu Pitung suka membela kebenaran di mana kalau bertemu dengan para perampas demi kepentingannya sendiri maka oleh si Pitung akan dilawan. Si Pitung selalu berhasil mengalahkan lawannya.

Gerakan Pitung semakin meluas dan akhirnya kompeni Belanda yang saat itu memegang kekuasaan di Indonesia melakukan tindakan terhadap si Pitung. Pemimpin polisi Belanda mengerahkan pasukannya untuk menangkap si Pitung, namun berkali – kali serangan tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Pitung selalu lolos dan tidak mudah untuk ditangkap oleh pasukan Belanda. Ditambah lagi si Pitung mempunyai ilmu kebal terhadap senjata tajam dan senjata api. Kompeni Belanda pun tidak kehilangan akal, pemimpin pasukan Belanda mencari guru si Pitung yaitu Haji Naipin. Disandera dan ditodongkan senjata ke arah Haji Naipin agar memberikan cara melemahkan kesaktian si Pitung, akhirnya Haji Naipin menyerah dan memberitahu kelemahan-kelemahan si Pitung.

Pada suatu saat, Belanda mengetahui keberadaan si Pitung dan langsung menyergap dan menyerang secara tiba – tiba. Pitung mengadakan perlawanan, dan akhirnya si Pitung tewas karena kompeni Belanda sudah mengetahui kelemahan si Pitung dari gurunya Haji Naipin.

  1. Jaka Tingkir
Jaka Tingkir

Jaka Tingkir mempelajari ilmu sakti dari Ki Buyut Banyubiru. Ia mempelajari ilmu sakti tersebut karena ingin menebus pengampunan karena ia telah membunuh Dadungawuk saudara dari Sultan Demak. Ki Buyut Banyubiru memberikan pelajaran – pelajaran ilmu saktinya di Gunung Lawu. Salah satunya adalah dengan merendam diri dalam sungai yang dingin, dengan tujuan dapat mengendalikan hawa nafsu.

Setelah beberapa bulan lamanya Jaka Tingkir menimba ilmu, Ki Buyut Banyubiru sudah memperbolehkan Jaka Tingkir untuk menemui Sultan Demak guna memohon pengampunan atas kesalahan yang pernah dilakukannya yaitu membunuh Dadungawuk. Di dalam perjalanannya menuju tempat Sultan Demak, Jaka Tingkir banyak menghadapi binatang – binatang buas yang menghadangnya, Salah satunya adalah menaklukkan raja buaya dan gerombolannya.

Sesampai di desa Sultan Demak, kebetulan di desa tersebut sedang terjadinya banteng buas yang mengamuk dan memporak pondakan seisi desa, pada saat itu juga Jaka Tingkir bertemu dengan Sultan Demak untuk meminta pengampunan dengan persyaratan harus dapat melawan banteng buas tersebut, Sultan Demak menyetujuinya. Akhirnya Jaka Tingkir berhasil melawan banteng buas itu dengan sebuah pukulan ke kepala banteng, mental dan pecah akhirnya banteng tersebut tersungkur mati.

Prajurit di desa itu terkagum dengan aksinya Jaka Tingkir yang telah menghadapi banteng buas dengan tegar dan mengalahkannya. Sultan Demak mengampuni perbuatan Jaka Tingkir tempo hari dan memaafkannya. Kemudian Jaka Tingkir diangkat sebagai pemimpin laskar tamtama, dan akhirnya menjadi menantu dari Sultan Demak.

  1. Jaka Tarub
Jaka Tarub

Di suatu desa pedalaman di Indonesia, hidup seorang janda dan seorang anaknya yang bernama Jaka di dusun Tarub. Semasa kecilnya ia suka bermain dengan kebiasaanya yaitu menyumpit burung. Sampai dewasa pun sumpitnya selalu dibawa – bawa ke mana pun. Pada suatu hati Jaka Tarub sedang berjalan di tengah hutan dan melihat burung – burung dan Jaka Tarub menyumpitnya tapi tidak mengena.

Burung – butung itu beterbangan dan dikejar oleh Jaka Tarub. Padahal hutan yang dilaluinya ini adalah hutan yang angker sekali. Dalam kesibukan mengejar burung, Jaka Tarub mendengar suara beberapa wanita yang sedang mandi di sebuah air terjun kecil. Jaka Tarub mengintai dan mengintip dari balik semak – semak belukar. Dan melihat ada sebuah selendang di dekatnya dan diambil oleh Jaka Tarub.Ternyata wanita – wanita yang sedang mandi itu adalah kumpulan bidadari yang turun dari kahyangan. Salah satu bidadari menyadari kalau Jaka Tarub mengintip mereka yang sedang mandi, akhirnya semua bidadari di situ panik dan terbang kembali ke kahyangan. Kecuali satu bidadari kebingungan mencari selendangnya yang diambil oleh Jaka Tarub. Lalu si bidadari dan Jaka Tarub saling menyapa. Bidadari ikut dengan Jaka Tarub ke desanya, lalu mereka berdua hidup bersama sampai mempunyai anak. Selama hidupnya Jaka Tarub walau kerjanya hanya tidur – tidur saja tapi hasil pangannya melimpah karena keajaiban dari bidadari. Lumbung padi penuh, masakan cepat tersaji banyak.

Pada suatu saat Jaka Tarub tak sengaja melanggar janji yang diberikan oleh bidadarinya yaitu tidak boleh membuka hidangan sebelum matang betul. Akhirnya keajaiban sang bidadari hilang. Dan mereka kembali harus bekerja keras setiap harinya. Suatu hari si bidadari menemukan selendangnya yang disimpan oleh Jaka Tarub, akhirnya perpisahan pun terjadi, bidadari kembali pergi ke kahyangan meninggalkan Jaka Tarub beserta anaknya.

  1. Arya Penangsang
Arya Penangsang

Pada saat kerajaan Pajang mencapai kejayaan di wilayah pesisir dan wilayah timur dengan masa pemerintahan Sultan Adiwijaya, semua rakyat dan para penguasa tunduk dan nurut kepadanya, hanya ada satu orang yang tidak mau tunduk yaitu Adipati Jipang yang bernama Aryo Panangsang. Sultan Adiwijaya bersikeras untuk menundukan Aryo Panangsang, lalu mengumpulkan para penasehat raja – raja berunding untuk menundukan Aryo Panangsang. Hasil perundingan diputuskan untuk diumumkan di masyarakat umum ‘Barang siapa yang dapat mengalahkan Aryo Panangsang dari Jipang akan diberikan hadiah dan harta kekayaan’. Namun strategi ini gagal dilakukan.Strategi selanjutnya adalah, dengan mengirim pesan kepada Aryo Panangsang melalui tukang kebunnya yang diiris kupingnya. Aryo Pangsang marah dan memutuskan untuk melawan Sultan Adiwijaya. Karena tidak sabaran maka Aryo Panangsang pergi duluan, setibanya di sungai Bengawan ternyata banyak pasukan Sultan Adiwijaya yang sudah lama menantinya. Dengan gigih Aryo Panangsang dengan menggunakan tombak saktinya dapat merobohkan banyak pasukan. Akan tetapi di sela peperangan Aryo Panangsang mendapat luka di bagian perutnya yang sobek sehingga ususnya sampai keluar, oleh Aryo Panangsang ususnya dililitkan di kerisnya dan melanjutkan peperangan tersebut. Betapa gigih dan pemberaninya Aryo Panangsang.

Karena peperangan tersebut tidak seimbang karena banyaknya pasukan sedangkan Aryo Panangsang hanya seorang diri, luncurlah sebuah tombak menancap di dadanya Aryo Panangsang, dan sewaktu Aryo Panangsang ingin membalas dengan kerisnya, ia lupa bahwa ususnya ia lilitkan di keris, akhirnya keris dicabut dan ususnya Aryo Panangsang terputus – putus yang mengakibatkan Aryo Panangsang tewas.

  1. Sangkuriang
sangkuriang

Sangkuriang lahir dari kehidupan para siluman yang berkehidupan bersama dengan manusia, pada waktu itu masa kejayaan Kerajaan Parahyangan dengan seorang raja Prabu Sungging Prabangkara. Sangkuriang tumbuh di hutan belantara yang dibesarkan oleh Sang Pertapa yang sudah tua, ia banyak belajar ilmu – ilmu kesaktian dan sering melakukan pertapaan. Beranjak dewasa Sangkuriang menjadi pemuda yang gagah perkasa, sakti mandraguna dan tampan.

Diawali dari sebuah kisah, dia sedang berkelana dan di sebuah hutan ia menolong seorang wanita yang sedang terancam jiwanya oleh seekor badak besar yang ganas siap menerjang, dengan gerak cepat Sangkuriang menolong wanita itu dari marabahaya menggunakan kesaktiannya. Tanpa disadari Sangkuriang terpesona terhadap wanita ini dan ternyata wanita tersebut adalah ibu kandungnya. Sangkuriang ingin meminang wanita itu, akan tetapi wanita tersebut berkeberatan karana Sangkuriang adalah anak kandungnya, supaya tidak terlaksana maka wanita tersebut memberi persyaratan untuk bisa meminangnya yaitu dengan membuat sebuah danau dan perahu besar dalam satu malam saja, akhirnya Sangkuriang menyanggupinya dan gagal.

Perahu yang setengah jadi itu ditendang oleh Sangkuriang dan lama kelamaan berubah menjadi gunung merapi yang sekarang disebut gunung Tangkuban Perahu. Sangkuriang memohon permintaan ampun kepada sang Dewata atas semua perbuatannya ini.

Semua bukan fiksi, tetapi inilah pendekar asli Indonesia yang kini melegenda.

Sumber: http://awesome-valen.blogspot.com/2011/09/inilah-pendekar-asli-indonesia.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *