Solo Travelling Menjadi Solusi Di Saat Lagi Down

Pada akhirnya, semakin beranjak dewasa kita akan dihadapkan dengan kejadian tak terduga yang sebelumnya tidak pernah kita alami. Peran semakin bertambah dan tanggung jawab semakin besar. Tidak apa-apa, itu adalah hal yang wajar. Hal tersebut hampir dialami oleh semua orang.

Contohnya seperti saya, saya pernah kok mengalami down dan segala macam keresahan yang bisa dibilang diusia produktif .

Sebenarnya, jika menelusuri dari masalah-masalah tersebut, akarnya berawal dari faktor psikologis, bisa berasal dari peristiwa-peristiwa di masa lampau atau segala sesuatu yang pernah dialami, dan tentu saja karena diri sendiri (alodokter.com).

Terkadang, saking sibuknya memahami orang lain dan lingkungan sekitar, saya lupa untuk memahami diri sendiri.

Lantas bagaimana cara saya mengatasi hal tersebut?

Solusi alternatif yang saya lakukan ketika sedang down yakni dengan melakukan solo traveling. Yapss benar, dulu saya sering melakukan perjalanan seorang diri.

Pengalaman Pertama Solo Travelling

Awalnya saya takut untuk melakukan solo traveling, tetapi waktu pertama kali saya coba, saya merasa lebih tenang dari sebelumnya.

Solo traveling pertama saya yaitu pada bulan Desember 2020 ke bukit Igir Kandang yang berada di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

bukit Igir Pemalang Jawa Tengah

Saya berangkat dari rumah pukul 08.00 menggunakan motor, jarak bukit Igir Kandang dengan rumah saya sekitar 2 jam.

Saat diperjalanan saya merasa tenang karena udaranya yang sangat sejuk dan dikelilingi pohon pinus.

Tepat pukul 10.00 saya sampai di bukit Igir Kandang.

Loket masuknya masih dibilang murah yaitu Rp 3.000/orang dan parkir motor Rp 2.000

Di Bukit Igir Kandang juga menyediakan penyewaan tenda camping tetapi saya tidak menyewa karena hanya ingin bolak balik saja dan tidak menginap. Untuk menuju puncak bukit saya harus berjalan kaki dengan ketinggian 1300 mdpl. Memang menanjak terasa capek tatapi ketika sudah berada dipuncak rasa capeknya jadi hilang karena disuguhkan dengan pemandangan Gunung Slamet yang begitu indah.

Disitu saya duduk menikmati pemandangan tidak lupa mengabadikan momen, dan juga menikamati jajanan.

Kok di bukit ada yang jual? nah ini, memang banyak yang jual karena bukit ini tidak terlalu tinggi, di bukit ini juga menyediakan toilet. Setelah sholat dhuhur saya bergegas pulang karena cuacanya sudah mulai mendung. Kurang lebih dua jam perjalanan akhirnya saya tiba di rumah setelah itu saya langsung mandi. Setelah saya pulang fikiran saya jadi lebih fresh lagi, tidak terlalu down seperti kemarin.

Manfaat Solo Travelling

Lebih mengenali diri

Manfaat yang saya dapatkan ketika melakukan solo traveling, saya dapat berkompromi terhadap diri sendiri. Dengan berkompromi untuk melakukan me-time, itu artinya saya berusaha untuk mengerti bagaimana kondisi yang saya butuhkan.

Hal biasa saya lakukan saat menempuh perjalanan, dengan melakukan monolog terhadap diri sendiri, mencoba mengerti apa yang sebenarnya saya rasakan, memvalidasi perasaan tersebut, untuk kemudian belajar melakukan penerimaan terhadap masa lalu yang pernah terjadi.

Cara solo traveling menjadi salah satu ikhtiar yang cukup ampuh karena saat sendiri saya tidak akan terdistraksi oleh orang lain, dan tentu akan lebih fokus terhadap pada diri saya sendiri.

Lebih Percaya Diri dan Mandiri

Manfaat yang kedua yaitu, saya merasa lebih percaya diri dan mandiri. Bepergian sendiri tandanya saya tidak bisa mengandalkan orang lain selama diperjalanan, sebab tidak ada teman yang akan selalu ada ketika mengalami kesulitan, atau musibah saat di jalan.

Kejadian tersesat, kehabisan uang karena kebutuhan mendesak yang tak terduga, kebingungan menggunakan alat transportasi umum, melakukan kesalahan di tempat orang lain, hingga musibah-musibah lain sangat memungkinkan terjadi.

Namun itu semua tidak perlu dijadikan sebagai hal yang menakutkan, sebab justru membuat saya lebih mandiri, karena tidak ada teman yang dapat diandalkan selain diri sendiri. Segala kemungkinan yang dapat terjadi itu akan di-cover oleh diri sendiri. Jikalau suatu keadaan mengharuskan saya untuk meminta pertolongan, saya malah belajar untuk lebih percaya diri agar berani berinteraksi dengan orang asing, serta belajar untuk mengambil keputusan dan mengambil resiko terhadap sesuatu.

Membuat lebih terbuka dalam cara berpikir

Manfaat ketiga yang saya dapatkan yaitu menjadi pribadi yang berfikiran terbuka. Semakin jauh dan semakin sering melakukan perjalanan, cara berpikir saya akan semakin terbuka.

Mengapa demikian? Karena solo traveling akan membuat saya dapat mengeksplor beragam hal baru,

  • keadaan lingkungan yang baru,
  • orang-orang baru,
  • hingga cerita baru yang akan ditemui selama perjalanan.

Disitulah, saya mampu belajar dari keberagaman. Keberagaman cara orang berpikir, mengambil sikap, melakukan sesuatu. Dengan melalui banyak pengalaman yang berbeda tempat pula, dapat mengasah keterbukaan pemikiran untuk menghadapi segala hal. Saya juga dapat belajar untuk menaklukkan berbagai macam ketidakmungkinan yang mulanya belum pernah saya lakukan dengan mengalahkan kemalasan, menghadapi rasa takut, mengatasi kecemasan, atau apapun yang bisa saja terjadi saat perjalanan.

Saran dari saya dalam melakukan solo travelling

  • Tempat wisata alam yang menyejukkan seperti bukit, air terjun atau gunung,
  • Ke daerah yang terkenal dengan ciri khas makanannya yang ikonik
  • Berkeliling ke tempat umum / yang sedang hits, sambil mengambil poto yang menarik.

Sekian pengalaman solo traveling dari saya, bagi kamu yang masih belum pernah mencoba solo traveling, dan ingin lebih mengenali diri, segera agendakan dan nikmati petualangan baru yang menyenangkan!

Penulis : Sherli Sarwahita

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta Prodi D3 Perpustakaan angkatan 2022.

Editor : Info-kita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *